Oleh : Luh Kitty Katherina
Peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI
Sebelumnya dipublikasikan di Kompasiana, 2015
Awal tahun selalu mengingatkan penduduk Jakarta akan bencana banjir yang selalu siap mengepung wilayah Jakarta. Data terakhir dari BNPB tahun 2014 menyebutkan 26 jiwa terenggut oleh banjir Jakrta serta economic loss yang hampir melumpuhkan ibukota. Banjir sudah menjadi rutinitas warga ibukota sejak beberapa puluh tahun terkahir. Selain banjir, bencana kronis yang identik dengan Jakarta adalah kemacetan yang sudah menjadi keseharian penduduk Jakarta. Diperkirakan sekitar US $ 3 milyar per tahun hilang karena kemacetan lalu lintas di Jakarta.
Permasalahan ini adalah implikasi dari fungsi Jakarta yang beragam, mulai dari fungsi administrasi hingga fungsi ekonomi. Kondisi ini telah menarik jutaan orang untuk berjibaku di dalamnya, membentuk kawasan perkotaan yang sangat besar atau megacity. Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan jumlah penduduk Megacity Jakarta atau yang dikenal juga dengan istilah Megacity Jabodetabek, sudah mencapai 27,96 juta jiwa. Sejak lebih dari empat puluh tahun yang lalu Jakarta merupakan satu-satunya megacity di Indonesia.
Sementara itu di bagian timur Pulau Jawa indikasi berkembangnya megacity mulai terlihat. Sensus Penduduk 2010 menunjukkan Greater Surabaya atau Gerbangkertosusila (Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan serta Kota Mojokerto, dan Surabaya) telah memiliki jumlah penduduk 9,12 juta jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan per tahunnya sebesar 1,27%. Sampai akhir tahun 2010, megacity didefinisikan sebagai kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk di atas 8 juta jiwa, namun menjadi 10 juta jiwa pada tahun 2011 (UN Habitat). Dengan asumsi laju berkisar angka tersebut, maka pada sensus selanjutnya (2020) Greater Surabaya akan menjadi megacity baru di Indonesia.
Selanjutnya menjadi pertanyaan, akankah Surabaya akan menjadi Jakarta yang kedua? Akankah Surabaya akan dibiarkan menjadi replikasi Jakarta dengan segala kompleksitas permasalahannya?
Dari aspek jumlah penduduk, Gerbangkertosusila saat ini adalah Jabodetabek empat puluh tahun yang lalu. Empat puluh tahun yang lalu jumlah penduduk Jabodetabek 8,54 juta jiwa, sementara Gerbangkertasusila saat ini 9,12 juta jiwa. Dalam kurun waktu empat puluh tahun tersebut Jabodetabek memiliki jumlah penduduk 3 kali lipatnya, sementara Gerbangkertosusila jika ditarik mudur tiga puluh tahun ke belakang jumlah penduduknya hanya bertambah sekitar 20% saja.
Kecepatan pertumbuhan penduduk Gerbangkertosusila memang tidak secepat Jabodetabek. Namun permasalahan kronis yang dihadapi Surabaya saat ini hampir sama dengan yang dihadapi oleh Jakarta. Banjir dan kemacetan juga menjadi warna tersendiri bagi kehidupan perkotaan Surabaya. Banjir sudah melanda kota ini sejak beberapa tahun lalu dan semakin hari semakin parah. Pada Maret 2013, Surabaya diguyur hujan yang berakibat banjir seperti di Jalan Jambi, Jalan Ciliwung, Jalan Raya Dr Soetomo dan beberapa ruas jalan protokol seperti Jalan Embong Malang dan Jalan Basuki Rahmad. Ketinggian air mencapai 40 cm yang menghambat arus lalu lintas. Banjir terparah dialami oleh Surabaya pada pertengahan Desember 2014, dimana banyak perumahan-perumahan yang awalnya tidak pernah banjir pada banjir kali ini genangan dalam rumahnya mencapai 15 cm.
Begitu juga dengan kemacetan, Kota Surabaya sudah mengalami kemacetan pada hampir seluruh ruas jalan utama, diantaranya Jl. Ahmad Yani, Bundaran Waru, Dupak, Demak, Jl. Raya Darmo dan Polisi Istimewa. Gejala komuter juga mulai terjadi dari wilayah pinggiran Surabaya menuju pusat kota di pagi hari dan arah sebaliknya di sore hari meskipun tidak sepadat Jakarta. Infrastruktur transportasi Kota Surabaya dengan wilayah sekitarnya cukup baik, jaringan jalan yang terintegrasi diantara wilayah Greater Surabaya, dengan transportasi publik seperti dapat angkutan umum, bis kota, dan kereta api listrik. Namun arus pergerakan lebih besar dibandingkan dengan infrastruktur yang tersedia sehingga tumpukan arus lalu lintas tetap terjadi.
Kondisi ini terkait dengan perkembangan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah pinggiran kota inti yang didominasi oleh perumahan skala besar. Perumahan tersebut sebagian besar dihuni oleh para pekerja dari kota inti. Para pekerja tersebut setiap hari melakukan komuter atau ulang alik untuk bekerja. Wilayah pinggiran tumbuh lebih cepat dari kota inti yang ditandai dengan laju pertumbuhan penduduk di wilayah pinggiran lebih tinggi dibandingkan dengan kota inti. Kondisi ini sudah terjadi di Jakarta sejak beberapa puluh tahun yang lalu, bahwa pertumbuhan penduduk Kota Jakarta lebih rendah dari wilayah sekitarnya yaitu Bekasi, Depok dan Tangerang. Tingginya aktivitas perkotaan di kota inti tidak mampu lagi ditampung oleh infrastrukturnya sendiri.
Kembali ke Jakarta, fungsi sebagai ibukota negara memberikan banyak keuntungan bagi Jakarta, dimana sebagai ibukota, Jakarta hampir merupakan pusat segalanya, infrastruktur utama selalu disediakan untuk Jakarta sementara kota-kota lain selain harus bersaing dengan Jakarta juga harus bersaing dengan kota-kota lain untuk mendapat sebuah fasilitas. Sehingga percepatan ekonomi dan konsentrasi penduduk terjadi lebih besar di Jakarta. Melihat kecenderungan perkembangan Greater Surabaya, walaupun lebih lambat, namun mulai terlihat fenomena-fenomena yang terjadi di Jakarta terjadi juga di Surabaya. Dengan jumlah penduduk 9,12 juta jiwa dan luas area 5.925,84 km2, serta kegiatan industri yang semakin besar ditambah infrastruktur yang mendukung, Greater Surabaya masih akan terus berkembang.
Potensi berkembangnya Kota Surabaya dan sekitarnya tidak terlepas dari kedudukan dalam sistem atau hirarki kota-kota di Indonesia. Kota Surabaya merupakan kota lapis kedua Indonesia setelah Jakarta sebagai kota utama. Kota lapis kedua berperan penting dalam memfasilitasi produksi lokal, transportasi, transfer barang, manusia, informasi dan jasa antar sub-nasional, metropolitan, nasional, regional dan sistem global kota-kota. Secara bertahap, kota lapis kedua masuk ke dalam koneksi internasional, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.
Perlu langkah-langkah antisipatif dalam menyikapi perkembangan Surabaya atau kota-kota lain agar hal-hal negatif yang terjadi di Jakarta tidak terulang di kota-kota lain. Karena selain Surabaya, kota-kota besar lain di Indonesia juga memiliki potensi menjadi megacity pada beberapa puluh tahun ke depan, seperti Bandung, Semarang, bahkan Medan. Greater Bandung pada Sensus Penduduk tahun 2010 memiliki jumlah penduduk 8,72 juta jiwa, Greater Semarang 5,93 juta jiwa dan Greater Medan 4,5 juta jiwa. Sehingga berat untuk membayangkan ketika kemacetan, banjir, permukiman kumuh, dalam skala yang masif terjadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia.
