Ketika Desa Menjadi Kota: Spekulasi atas Ruang dan Hunian
Ditulis pertama kali sebagai take away essay untuk wicara seniman Gata Mahardika di Biennale Jogja 18, disunting untuk diterbitkan kembali di Kotaraya.id oleh Ayos Purwoaji.

Rumah. Saya menyadari definisi dan bagaimana setiap orang memaknai rumah itu berbeda. Ketika tahun lalu saya berkegiatan di Bukit Duabelas, tempat masyarakat adat Orang Rimba hidup, saya melihat bahwa konsep rumah secara fisik tidaklah penting bagi mereka karena mereka adalah komunitas nomaden. Ketika dulu saya tidak bisa membayar uang kost, standar kenyamanan saya turun drastis, selama saya punya ruang privasi dan tidak kehujanan, itu adalah rumah bagi saya. Mungkin, jika saya bertanya tentang rumah impian pada orang yang tinggal di New York, jawabannya adalah penthouse di puncak gedung pencakar langit, tapi saya rasa jawaban itu tidak mungkin muncul dari mulut orang Indonesia, karena bayangan tentang hidup di gedung bertingkat saja baru muncul beberapa tahun belakangan.
Saya melakukan wawancara sederhana ke orang di sekitar saya, saya bertanya tentang rumah ideal versi mereka, dan jawabannya kurang lebih sama: rumah tapak, memiliki pekarangan yang luas, sejuk, dan tenang. In this economy, mungkinkah kita memiliki rumah seperti itu? Bagaimana caranya?
Kebutuhan untuk memiliki rumah mulai terasa penting bagi saya, terutama saat saya menginjak usia tiga puluhan, sejak topik itu mulai sering muncul di dalam obrolan bersama teman. Dulu ketika masih kecil, saya membayangkan saya akan membangun rumah sendiri di atas tanah kosong, tapi sekarang mencari tanah kosong di tengah kota saja sangat sulit, kalaupun ada harganya jelas tidak cocok dengan kemampuan ekonomi saya. Hufth. Untung saja masih ada rumah orang tua.
I. Rumah Sebagai Narasi, Kota Sebagai Ilusi
Latar belakang saya dalam arsitektur dan periklanan memberikan sintesis perspektif tersendiri. Saya tidak hanya ingin mengkritik bentuk fisik kota, tetapi juga mesin naratif yang digunakan oleh para pengembang untuk menjual mimpi. Ketika bekerja di rumah produksi iklan, saya sering diminta menulis cerita untuk menjual benda-benda yang… sebenarnya tidak akan pernah saya beli sendiri. Ada ironi di situ, saya menjual aspirasi yang bukan milik saya. Saya rasa realitas kota kita telah dibungkus sedemikian rupa menjadi ilusi, dan inilah titik awal Griya Fantasi: sebuah upaya untuk membedah bagaimana ruang dan hunian di negeri ini dibangun di atas ilusi kenyamanan, ilusi kepemilikan, dan yang paling berbahaya, ilusi perencanaan yang adil.
Di tengah tingkat urbanisasi Indonesia yang melampaui 58% pada tahun 2023, saya menyadari bahwa rumah telah berubah total: ia bukan lagi tempat bernaung, melainkan komoditas investasi yang diperdagangkan. Kota dan ruang perkotaan, seperti yang ditekankan oleh Rita Padawangi dalam working papernya, pada dasarnya kota adalah arena ideologis yang dirancang untuk melanggengkan hierarki kekuasaan.
Beban Backlog dan Reduksi Kelayakan Hidup
Krisis ini sangat nyata. Indonesia menghadapi backlog kepemilikan rumah yang mencapai 12,7 juta unit. Angka ini menjelaskan mengapa masyarakat kelas pekerja terdesak untuk menerima standar hunian yang semakin absurd.
Bagi saya, absurditas mencapai puncaknya ketika pemerintah melontarkan wacana untuk memperkecil luas bangunan rumah subsidi menjadi hanya 18 m². Bukannya mengatasi masalah lahan dan harga, kebijakan ini justru mengurangi standar kelayakan hidup. Ir. Wawan Ardian Suryawan, Dosen Arsitektur ITS, memperingatkan bahwa rumah 18m² lebih mirip kos ketimbang rumah untuk keluarga, memicu stres luar biasa karena semua fungsi hidup tumpang tindih dalam ruang sempit. Standar minimal kelayakan hunian yang sehat per orang adalah 7,2m²–12m². Dengan demikian, rumah 18m² secara efektif hanya memenuhi kebutuhan untuk 1,5 hingga 2,5 orang. Usulan ini adalah cerminan kebijakan yang tunduk pada logika keterbatasan lahan di perkotaan, mengorbankan kualitas hidup dan kesehatan sosial-psikologis.

Griya Fantasi adalah proyeksi distopis dari logika kebijakan yang gagal ini, bagaimana jika standar kelayakan ini terus direduksi sampai ke titik ekstrim? Di Surabaya, saya melihat banyak siasat warga dalam memiliki rumah tinggal. Rumah tempel, rumah liar, dan rumah berukuran 2x3 meter seperti yang saya buat sudah banyak eksis, bahkan anggota keluarganya bisa sampai 4-6 orang dan mereka punya jadwal tidur, misalnya bapak bekerja malam hari dan tidur di pagi hari, ibu tidur malam hari lalu bekerja di pagi hari. Saya rasa akan sangat mengerikan kalau pola survival ini dilegitimasikan.
II. Perluasan Kota dan Imperialisme Kendaraan
Logika pasar yang mendikte pembangunan melahirkan konsekuensi spasial yang keras. Itulah yang saya lihat di Surabaya Raya (Surabaya, Gresik, Sidoarjo), tiga kota yang saya kenal dekat, fenomena seperti urban sprawl, donut city, atau mobilisasi pekerja bukan lagi sekadar teori, tapi kenyataan yang kita alami setiap hari.
Ruang Eksklusif dan Konsekuensi Spasial
Kenaikan harga lahan membuat pusat kota menjadi wilayah yang semakin eksklusif, sebuah fenomena yang dikenal sebagai donut city. Kawasan inti menjadi padat oleh fungsi komersial, tetapi kosong dari hunian terjangkau bagi mereka yang bekerja di sana. Proyek mixed-use yang dipromosikan sebagai solusi efisiensi lahan pun seringkali hanya menyasar segmen menengah-atas, memperkuat segregasi ruang.
Fenomena yang saya lihat di Surabaya Raya ternyata sejalan dengan situasi di Jakarta. Rujak Center for Urban Studies mencatat bahwa kota ini telah lama gagal menyediakan hunian yang inklusif. Kebijakan ruang yang eksklusif justru mendorong urban sprawl dan memperlebar jurang antara warga kelas bawah, menengah, dan atas. Rujak juga menyoroti apa yang mereka sebut ‘missing middle’, yaitu kelompok masyarakat yang terlalu kaya untuk menerima subsidi, tapi terlalu miskin untuk membeli rumah kawasan kota. Pilihan semu yang tersisa adalah tinggal di pinggiran.
Pembangunan properti dalam logika kapitalisme selalu berusaha menjadikan ruang sebagai sesuatu yang statis: sebidang tanah dengan nilai tukar (exchange value) yang pasti. Namun, saya berpegangan pada pandangan teoretikus seperti Doreen Massey: ruang adalah relasi sosial yang dinamis, terus menerus dibentuk oleh interaksi, tindakan, dan pengalaman sehari-hari warga. Bagi Massey, ruang adalah dimensi koeksistensi perbedaan yang terus dinegosiasikan, seringkali dipenuhi konflik dan dibentuk oleh relasi sosial yang tidak setara.
Inilah inti dari masalah urban sprawl: dominasi modal menciptakan ruang eksklusif (donut city), sementara di pinggiran, pemilik modal berusaha mengubah lahan menjadi properti statis, mengabaikan dinamika sosial di dalamnya. Dampak paling nyata dari kegagalan perencanaan ini adalah urban sprawl yang tak terkendali. Kota melebar ke pinggiran, menelan desa-desa sekitarnya. Data menunjukkan, di kawasan fokus saya, lebih dari 900 hektar sawah di Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya telah dikonversi menjadi perumahan dan industri. Penuhnya lahan di tengah kota membuat para spekulan melirik daerah-daerah periferi, superioritas nilai spekulatif properti dan harga lahan.
Tabel berikut menunjukkan skala alih fungsi lahan sawah baku di kawasan inti Gerbangkertosusila (2019):

Desa Menanggung Beban Kota
Saya jadi berpikir, bagaimana bisa kota yang katanya berkembang justru tak menyediakan ruang hidup untuk mereka yang membangun kota itu sendiri? Inilah inti dari karya ini: perluasan kota memaksa desa menanggung beban baru. Fenomena gentrifikasi di pinggiran kota (peri-urban gentrification) mengubah sistem ekonomi agraris menjadi jasa, membuat harga sewa naik, dan mendorong keluar penduduk asli berpenghasilan rendah yang tidak memiliki sertifikat hak milik tanah, seperti yang terjadi di Cisauk, Tangerang.
Konsekuensi terberat dari sprawl adalah imperialisme kendaraan pribadi, karena fasilitas komuter yang memadai pun tidak tersedia. Perumahan pinggiran yang sporadis menuntut setiap penghuni memiliki mobil atau motor. Ketergantungan ini adalah "pajak" finansial yang tak terhindarkan bagi kelas pekerja, membebankan biaya aset depresiasi dan operasional yang besar, hanya untuk mengakses mata pencaharian.
Kritik arsitektur dalam Griya Fantasi, yakni pengorbanan ruang hidup demi garasi, adalah manifestasi fisik dari "pajak" spasial dan finansial ini.
III. Fiksi Sebagai Perlawanan
Saya percaya pada kekuatan fiksi. Seringkali, sejarah mengalami pemfiksian ketika diwariskan dari satu penutur ke penutur setelahnya, biasanya “bumbu-bumbu” fiksi ini berfungsi untuk mengisi kekosongan ruang empati dalam teks-teks yang dingin, sehingga proyek Griya Fantasi ini adalah upaya saya untuk menerjemahkan bahasa-bahasa yang teknokratis menjadi bentuk visual yang provokatif dan dapat dipahami oleh orang banyak.
Dalam merancang karya ini saya mencoba mengaplikasikan efek alienasi atau Verfremdungseffekt yang dicetuskan oleh Bertolt Brecht dalam teater epiknya. Saya ingin membawa audiens pada titik kritis dengan memunculkan perasaan yang janggal atas pengalamannya dalam menyaksikan model rumah yang terlalu tidak masuk akal. Brecht, yang terpengaruh ideologi Marxis, menggunakan teknik ini untuk memutus ilusi dan jarak emosional penonton dengan panggung, sehingga audiens dapat melihat masalah secara kritis dan logis, bukan sekadar larut dalam drama emosional.
Visualisasi 3D dalam karya Griya Fantasi oleh Gata Mahardika.
Audiencing: Menjual Ilusi Kepada Generasi yang Terbebani
Karya Griya Fantasi secara khusus menargetkan generasi milenial kelas pekerja sebagai audiens karena mereka adalah pasar utama yang menopang industri properti pinggiran, dengan 76,7% pengambil KPR adalah milenial. Pemasaran properti berhasil karena menjual ilusi stabilitas kepada generasi yang paling tidak stabil secara finansial, yang seringkali menjadi sandwich generation, menopang finansial orang tua sekaligus anak-anak. Tekanan ini memaksa banyak milenial mencari side hustle, mengurangi waktu istirahat dan keluarga demi komuter jarak jauh dan pendapatan tambahan.
Anatomi Arsitektur Anti-Manusia dan Satir
Desain perumahan Griya Fantasia adalah proyeksi ekstrem dari kecenderungan pasar, dengan prioritas kendaraan di atas manusia, dan efisiensi ruang brutal. Desain rumah Griya Fantasi yang absurd, seperti ruang domestik yang dikorbankan demi garasi, adalah manifestasi visual dari Verfremdungseffekt itu sendiri. Ini bukan desain yang meniru realitas dengan nyaman, tetapi yang justru menjadikan objek yang biasa menjadi aneh dan tidak diharapkan, sehingga memaksa kita untuk melihat ketidakadilan dalam sistem secara telanjang.
Jika iklan-iklan perumahan biasanya menampilkan rumah yang rapi dengan gaya hidup minimalis, saya menampilkan realita gaya hidup masyarakat kita yang maksimalis dan membutuhkan banyak benda dan perabot. Penggunaan tangga monyet dan memasukkan toren air ke dalam kamar untuk menghemat ruang, memaksimalkan ruang lantai dasar untuk parkir kendaraan dan memindah aktivitas manusia ke ruang atas. Desain ini merupakan spekulasi dan eksperimen untuk mencari batas antara yang masuk akal dan tidak masuk akal untuk menciptakan ruang alienasi, karena rasanya terlalu sulit untuk dipercaya jika ada spekulan yang menawarkan tempat tinggal seperti kandang hewan yang pernah ada di Kowloon.
Strategi Tandingan-Hegemonik
Bahaya profesi arsitektur adalah kecenderungan untuk memperkuat ketidaksetaraan material dalam pembangunan kapitalis dan menjadi alat yang sunyi dalam melanggengkan hierarki sosial, karena diskursus perencanaan menjadi hak prerogatif sekelompok kecil organisasi dan individu. Saya ingin memecah keheningan kritik arsitektur ini, yang di Indonesia seringkali hanya berfokus pada pelestarian vernakular atau modernisasi.
Untuk itu, Saya ‘meng-hijack’ bentuk booth perumahan, ruang yang biasanya menjadi simbol kekuasaan kapital, untuk menjadikannya ruang refleksi dan empati. Ini semacam kebalikan dari space of hope, tapi melalui fiksi. Karena saya percaya, seperti yang dikatakan Rita Padawangi, ruang harapan bisa lahir di mana pun warga berani membayangkan masa depan yang berbeda.
Saya melihat karya ini sebagai ruang spekulasi dan perlawanan kecil, semacam counter-hegemonic space dalam bentuk pameran. Jika Rujak berjuang di tataran kebijakan dan penelitian, maka saya mencoba melakukan perlawanan dalam bahasa visual dan narasi. Harapan saya, strategi retoris ini menciptakan momen stasis dan ruang kritis, di mana audiens bisa setuju pada masalah, tetapi menolak solusi yang disajikan oleh Griya Fantasi.
Model dan display karya Griya Fantasi oleh Gata Mahardika dalam Biennale Jogja 18.
IV. (Mari) Menciptakan Ruang Harapan (Spaces of Hope)
Sebagai sebuah karya seni, peran Griya Fantasi mungkin sudah selesai di bagian III, ia adalah sebuah bentuk kritik. Namun bagi saya, hal terpenting dalam kesenian bukanlah karya itu sendiri tapi bagaimana diskursus dan wacana itu terus bergulir setelah karya itu selesai.
Dalam working paper-nya, Rita Padawangi menyebut istilah counter-hegemonic spaces of hope, ruang harapan yang muncul dari bawah, dari inisiatif warga yang menolak tunduk pada logika kapital. Saya merasa konsep itu tepat untuk membaca fenomena di sekitar kita. Praktik-praktik seperti kos, rumah kontrak, rumah tempel, bahkan rumah liar, bukan sekadar cara bertahan, tapi cara warga menciptakan ruang alternatif.
Inspirasi Hunian Kolektif: Produksi Ruang dari Bawah
Karya saya mungkin distopis, tetapi solusinya haruslah utopian dan nyata. Sebagai contoh, saya ingin membahas inisiatif rumah flat di Menteng, Jakarta, yang diinisiasi oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS) adalah wujud nyata dari produksi ruang dari bawah (production of space from below) yang menentang hegemoni pasar.
Proses inisiatif rumah flat ini tidak terjadi dalam semalam. Bermula dari sayembara tanpa hadiah dan lebih dari satu dekade penelitian serta simulasi spasial oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS), tujuannya adalah mendorong pengakuan multi-family housing dalam kebijakan. Inisiatif ini membuktikan bahwa hunian multi-keluarga empat lantai dapat dibangun di pusat kota dengan prinsip gotong royong melalui koperasi dan memiliki mekanisme anti-spekulasi (hanya bisa dijual ke koperasi setelah minimal lima tahun).
Model ini berakar pada visi Henri Lefebvre dalam The Production of Space, yang mendefinisikan ruang sebagai produk sosial yang dipolitisasi. Lefebvre menegaskan: "Ubah hidup! Ubah masyarakat! Prinsip-prinsip ini tidak berarti tanpa produksi ruang yang sesuai". Inisiatif ini adalah tindakan warga untuk merebut Hak atas Kota (Right to the City), yaitu hak untuk berpartisipasi dan mengambil alih ruang (appropriation) sesuai dengan nilai guna (kebutuhan hidup), menolak nilai tukar (profit) kapitalis.
Filosofi ini diperkuat oleh David Harvey dalam Spaces of Hope, yang mendefinisikan Hak atas Kota bukan hanya sebagai akses individu, tetapi sebagai hak kolektif untuk "mengubah diri kita dengan mengubah kota". Harvey melihat perjuangan ini sebagai bentuk Utopianisme Dialektis, menggunakan imajinasi untuk melawan klaim bahwa "tidak ada alternatif" selain urbanisasi neoliberal. Rumah Flat membuktikan bahwa melalui gotong royong dan koperasi, hunian vertikal di pusat kota yang menekankan kualitas hidup (ventilasi silang, pencahayaan) dan mekanisme anti-spekulasi dapat terwujud. Inilah upaya kolektif untuk membangun ruang harapan yang menentang hegemoni profesional dan korporasi.
V. Penutup: Menuntut yang Mustahil
Griya Fantasi adalah provokasi naratif. Jika realitas pembangunan hunian di Indonesia telah mencapai tingkat absurditas, maka selain menyusun siasat bertahan hidup, kita harus tetap menuntut solusi yang saat ini dianggap 'mustahil' oleh sistem. Saya sadar bahwa sebagai seniman, saya tidak memiliki kuasa untuk menentukan kebijakan tata kota. Tapi, saya memiliki hak untuk membangun fiksi, yang memaksa kita semua untuk melihat ulang realita.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan seruan aktivisme sipil, mengutip tulisan Evi Mariani Dalam Project Multatuli yang juga mengutip dari gerakan Mei 1968 di Prancis:
“Be realistic, demand the impossible.”
Mari kita tuntut regulasi lahan yang kuat, investasi pada transportasi publik, dan, yang terpenting, hak kita untuk merancang ruang hidup yang berpusat pada manusia, bukan kendaraan, dan bukan sekadar keuntungan kapital.
Referensi
Padawangi, R. (2014). Counter-Hegemonic Spaces of Hope? Constructing the Public City in Jakarta and Singapore (ARI Working Paper Series No. 219). Asia Research Institute, National University of Singapore.
Harvey, D. (2000). Spaces of Hope. University of California Press.
Lefebvre, H. (1991). The Production of Space (D. Nicholson-Smith, Trans.). Blackwell Publishers.
Andini, M. D., Lestari, F., Medtry, M., & Karenina, A. (2023). The Peri-Urban Gentrification Process in Cisauk Subdistrict, Tangerang Regency, Indonesia. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 373(2), 295-306.
Ardian, W. S. (2025, Juni 25). Dosen Arsitektur ITS Sebut Rumah Subsidi Hanya 18 Meter Persegi Justru Bisa Picu Masalah Baru. Suarasurabaya.net
Brecht, B. (1969). Über die Verfremdungseffekt. Suhrkamp.
De Carlo, G. (2005). Architecture's Public. In P. B. Jones, D. Petrescu, & J. Till (Eds.), Architecture and Participation. Spon Press.
Sutanudjaja, E. (2024, Desember 12). Perjalanan Rumah Flat kami: Solusi Hunian untuk Jakarta. Rujak Center for Urban Studies. Diakses dari https://rujak.org/perjalanan-rumah-flat/
Haryati, I. (2022). Verfremdungseffekt (Efek Alienasi) Dalam Teks Drama Mutter Courage Und Ihre. Kinder Karya Bertolt Brecht. Matra: Jurnal Musik Tari Teater & Rupa, 1(2), 195–204.
Idxchannel. (n.d.). BTN: Kaum Milenial Paling Banyak Ambil KPR daripada Generasi Lainnya, Capai 76,7 Persen. indopremier.com
Katherina, L. K. & Indraprahasta, G. S. (2019). Urbanization Pattern in Indonesia's Secondary Cities: Greater Surabaya and Its Path toward a Megacity. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 338(1), Article 012018.
Kompas Online. (2025, Juni 13). Ukuran Rumah Subsidi Dipangkas, Mimpi Punya Rumah Layak Huni Pupus.
PermenPRPR. (2018). Kriteria RLH Menurut PermenPRPR Tahun 2018.
Tempo.co. (2024, Oktober 13). Backlog 12,7 Juta Rumah, Bank Tanah dan SMF Teken MoU Penyediaan Rumah MBR.
Think Policy. (n.d.). Designing an Ideal Version of Jakarta Using Doughnut Economics Framework.
Firmansyah, F. Yusuf, M. & Argarini T.O. (2021). Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah di Provinsi Jawa Timur. JURNAL PENATAAN RUANG Vol. 16, No. 1
Wiraland. (2024, September 1). Kriteria Rumah Layak Huni Menurut PUPR Indonesia.
YouTube. (n.d.). Diskusi Terbuka Kritik Arsitektur 'JELEK!'. Channel balavirya bvnd.
Mariani, E. (2023, Juni 8). ‘Jadilah Realistis, Tuntutlah yang Tidak Mungkin’: Cukup Sudah Kapitalisme dan Patriarki. Project Multatuli








